Home Suara PRT Pandemi Mereda, PRT Gaspol Perjuangkan Pengesahan RUU Perlindungan PRT

Pandemi Mereda, PRT Gaspol Perjuangkan Pengesahan RUU Perlindungan PRT

by Puan Datu

Jakarta – Senyum lebar dan sumringah menghiasi wajah ratusan pekerja rumah tangga (PRT) yang bergabung dalam Serikat PRT (SPRT) Sapulidi, Jakarta saat  mengikuti pertemuan tatap muka yang dihelat di Situ Gintung, Ciputat Tangerang Selatan pada Minggu (5/6/2022) siang.

Ya, setelah lebih dua tahun tidak bisa bertemu langsung akibat merebaknya pandemic Covid-19, kini mereka bisa kembali bertemu dan bertukar cerita dengan sesama teman PRT. Setidaknya 400 PRT yang bekerja di seantero Jakarta dan Depok, hadir di pertemuan itu.

Pertemuan ini merupakan upaya konsolidasi para PRT yang bekerja di Jakarta yang hampir dua tahun ini terhenti akibat pandemi. Dalam pertemuan ini mereka meneguhkan semangat dalam perjuangan mereka untuk perlindungan PRT. Mereka akan makin lantang menyuarakan pengesagan RUU Perlindungan yang sudah 18 tahun digantung di DPR.

Ratusan PRT anggota SPRT Sapulidi yang siang itu kompak mengenakan kaos merah menyatukan tekad, dengan berlalunya pandemi Covid-19 mereka akan segera mengakselerasi perjuangan mereka.

“Kami bertekad untuk menginjak gas hingga pol dan lebih semangat merekrut anggota baru, merawat organisasi, dan berjuang untuk perlindungan PRT,” ujar Adiyati Suparmi salah seorang paralegal Jala PRT yang juga Pengurus SPRT Sapulidi Sub Komisi (SK) Depok kepada tungkumenyala.com, Senin 6/6/2022.

Kami bertekad untuk menginjak gas hingga pol dan lebih semangat merekrut anggota baru, merawat organisasi, dan berjuang untuk perlindungan PRT.

Ditambahkannya, per 27 Mei 2022 anggota SPRT Sapulidi tercatat 5374 orang yang tersebar di 12 SK. Setelah konsolidasi ini, diharapkan  setiap SK bisa menggaet 15 orang anggota baru setiap bulannya, sehingga pada akhir 2022 jumlah anggota bisa mencapai 6000 orang.

Dengan semakin banyak anggota, ujarnya, kita semakin besar dan semakin kuat dalam memperjuangkan hak PRT. Dijelaskan, dalam rekruitmen ini, pengurus SK aktif melakukan sosialisasi untuk menyadarkan PRT pentingnya berorganisasi. Selain demi perlindungan hak mereka, juga membangun kesadaran bahwa PRT adalah profesi mulia yang  punya peran penting bagi kehidupan jutaan keluarga di Indonesia.

Diakuinya, untuk mewujudkan hal ini bukan upaya mudah. Di lapangan ada saja hambatan yang ditemui. Tidak semua PRT mau diajak bergabung. Selain khawatir tidak diizinkan pemberi kerja ada juga yang beralasan tidak punya cukup waktu untuk aktif di organisasi.

Tetapi, hambatan itu lebih sering datang dari pemberi kerja. Mereka khawatir jika PRTnya berorganisasi akan menuntut macam-macam.

“Untuk menyiasati kondisi ini, kami aktif menyosialisasikan bahwa SPRT tak hanya membekali hak PRT tetapi juga kewajiban dan menambah skill PRT, sehingga dengan demikian pemberi kerja juga akan diuntungkan,” imbuh Adiyati.

Muara dari perjuangan para PRT ini adalah disahkannya RUU Perlindungan PRT yang akan menjadi payung hukum bagi lebih dari 5 juta pekerja rumah tangga yang ada di seluruh Tanah Air. UU Perlindungan PRT ini juga diyakini akan meningkatkan posisi tawar pekerja migran Indonesia yang bekerja sebagai PRT di luar negeri.

Related Articles

Leave a Comment